Wednesday, October 14, 2009

Belajar dari Orang Yahudi

Pepatah mengatakan, "walaupun keluar dari dubur ayam, tetapi jika itu adalah telur maka ambillah". Pepatah tersebut kiranya dapat kita terapkan pada hal yang akan saya ceritakan di bawah ini. Sudah menjadi rahasia umum bahwa bangsa Yahudi dikenal sebagai bangsa yang pandai. Bahkan beberapa ayat dalam Al-Qur'an pun menjelaskan bahwa sebelum dilaknat oleh Allah karena kesombongan mereka, bangsa Yahudi disebut sebagai umat pilihan. Terbukti, sampai sekarang pun banyak sekali orang-orang Yahudi yang menguasai berbagai sektor strategis di seluruh belahan dunia. Dalam sebuah seminar yang pernah saya ikuti, pembicara dalam seminar tersebut pernah mengatakan bahwa dunia ini sebenarnya hanya digerakkan oleh beberapa orang saja. Mereka lah yang mengambil peranan penting, seolah dunia ada dalam genggaman mereka dan bisa mengatur segala sesuatunya. Termasuk resesi dunia, naik-turunnya nilai mata uang, harga minyak, bahkan peperangan antar bangsa.


Fakta yang kita temukan sekarang ini tentunya membawa kita pada satu pertanyaan. Sesungguhnya apa yang membuat bangsa Yahudi begitu "berjaya" di masa sekarang? Adakah hal-hal tertentu yang membuat mereka begitu menguasai dunia saat ini? Marilah kita sama-sama mengambil pelajaran positif dari apa yang diterapkan bangsa Yahudi pada anak keturunannya, yang pada akhirnya dapat membuat mereka semaju sekarang ini.


Sebuah artikel yang ditulis oleh Dr Stephen Carr Leon patut menjadi renungan kita bersama. Stephen menulis dari pengamatan langsung. Setelah berada 3 tahun di Israel karena menjalani housemanship di beberapa rumah sakit di sana.


Di Israel, setelah mengetahui sang ibu sedang mengandung, sang ibu akan sering menyanyi dan bermain piano. Si ibu dan bapak akan membeli buku matematika dan menyelesaikan soal bersama suami.


Ibu yang sedang mengandung sering membawa buku matematika dan bertanya beberapa soal yang tak dapat diselesaikan. Tanpa merasa jenuh si calon ibu mengerjakan latihan matematika sampai genap melahirkan.


"Ini untuk anak saya yang masih di kandungan, saya sedang melatih otaknya, semoga ia menjadi jenius."


Sejak awal mengandung, si ibu suka sekali memakan kacang badam dan korma bersama susu. Tengah hari makanan utamanya roti dan ikan tanpa kepala bersama salad yang dicampur dengan badam dan berbagai jenis kacang-kacangan. Menurut wanita Yahudi itu, daging ikan sungguh baik untuk perkembangan otak dan kepala ikan mengandung kimia yang tidak baik yang dapat merusak perkembangan dan penumbuhan otak anak di dalam kandungan. Ini adalah adat orang orang Yahudi ketika mengandung. Menjadi semacam kewajiban untuk ibu yang sedang mengandung mengonsumsi pil minyak ikan. Mereka gemar sekali memakan ikan (hanya isi atau fillet).





Kacang Badam


Biasanya kalau sudah ada ikan, tidak ada daging. Ikan dan daging tidak ada bersama di satu meja. Menurut keluarga Yahudi, campuran daging dan ikan tak bagus dimakan bersama. Salad dan kacang, harus, terutama kacang badam.


Uniknya, mereka akan makan buah-buahan dahulu sebelum hidangan utama. Jangan terperanjat jika Anda diundang ke rumah Yahudi Anda akan dihidangkan buah buahan dahulu. Menurut mereka, dengan memakan hidangan kabohidrat (nasi atau roti) dahulu kemudian buah buahan, ini akan menyebabkan kita merasa ngantuk. Akibatnya lemah dan payah untuk memahami pelajaran di sekolah.


Di Israel, merokok adalah tabu, apabila Anda diundang makan di rumah Yahudi, jangan sekali kali merokok. Tanpa sungkan mereka akan menyuruh Anda keluar dari rumah mereka. Menyuruh Anda merokok di luar rumah mereka.


Menurut ilmuwan di Universitas Israel, penelitian menunjukkan nikotin dapat merusakkan sel utama pada otak manusia dan akan melekat pada gen. Artinya, keturunan perokok bakal membawa generasi yang cacat otak (bodoh). Suatu penemuan yang dari saintis gen dan DNA Israel.


Anak-anak Yahudi sangat memperhatikan makanan, makanan awal adalah buah-buahan bersama kacang badam, diikuti dengan menelan pil minyak ikan (code oil lever). Anak-anak Yahudi sungguh cerdas. Rata rata mereka memahami tiga bahasa, Hebrew, Arab, dan Inggris. Sejak kecil mereka telah dilatih bermain piano dan biola. Ini adalah suatu kewajiban. Menurut mereka bermain musik dan memahami not dapat meningkatkan IQ. Sudah tentu bakal menjadikan anak pintar. Ini menurut saintis Yahudi, hentakan musik dapat merangsang otak. Tak heran banyak pakar musik dari kaum Yahudi.


Di kelas 1 hingga 6, anak-anak Yahudi akan diajari matematika berbasis perniagaan. Pelajaran IPA sangat diutamakan. Di dalam pengamatan Stephen, “Perbandingan dengan anak anak di California, dalam tingkat IQ-nya bisa saya katakan 6 tahun ke belakang!!!” Segala pelajaran akan dengan mudah di tangkap oleh anak Yahudi


Selain dari pelajaran tadi olahraga juga menjadi kewajiban bagi mereka. Olahraga yang diutamakan adalah memanah, menembak, dan berlari. Menurut teman Yahudi-nya Stephen, memanah dan menembak dapat melatih otak fokus. Di samping itu menembak bagian dari persiapan untuk membela negara.


Di sini murid-murid digojlok dengan pelajaran sains. Mereka didorong untuk menciptakan produk. Meski proyek mereka kadangkala kelihatannya lucu dan memboroskan, tetap diteliti dengan serius. Apalagi kalau yang diteliti itu berupa senjata, medis, dan teknik. Ide itu akan dibawa ke jenjang lebih tinggi. Satu lagi yang diberi keutamaan ialah fakultas ekonomi. Saya sungguh terperanjat melihat mereka begitu agresif dan seriusnya mereka belajar ekonomi. Di akhir tahun di universitas, mahasiswa diharuskan mengerjakan proyek. Mereka harus memperaktekkanya. Anda hanya akan lulus jika team Anda (10 pelajar setiap kumpulan) dapat keuntungan sebanyak $US 1 juta!


Kesimpulannya, melahirkan anak dan keturunan yang cerdas adalah keharusan. Tentunya bukan perkara yang bisa diselesaikan semalaman. Perlu proses, melewati beberapa generasi mungkin?


Ambil contoh tetangga kita yang terdekat adalah Singapura. Singapura selain menerapkan aturan yang ketat tentang rokok, juga harganya sangat mahal.


Benarkah merokok dapat melahirkan generasi “Goblok!” kata Goblok bukan dari saya pribadi, tapi kata itu justru dari Stephen Carr Leon sendiri. Dia sudah menemui beberapa bukti menyokong teori ini. Lihat saja Indonesia,” katanya seperti dalam tulisan itu.


Kata Dr Stephen, "jika Anda ke Jakarta, di mana saja Anda berada, dari restoran, teater, kebun bunga hingga ke musium, hidung Anda akan segera mencium bau asak rokok! Berapa harga rokok? Cuma US$ .70 cents !!!"


“Hasilnya? Dengan penduduknya berjumlah jutaan orang berapa banyak universitas? Hasil apakah yang dapat dibanggakan? Teknologi? Jauh sekali. Adakah mereka dapat berbahasa selain dari bahasa mereka sendiri? Mengapa mereka begitu sukar sekali menguasai bahasa Inggris? Di tangga berapakah kedudukan mereka di pertandingan matematika sedunia? Apakah ini bukan akibat merokok? Anda fikirlah sendiri?"

1 comment:

Unknown said...

kata "Rokok" sering sekali diucapkan. seperti nya anda sangat tidak suka rokok ketimbang yahudi. hehe