Tuesday, January 19, 2010

Anak Indonesia Umur 9 Tahun Kuliah Di Hong Kong!

Punya dua orang keponakan yang lucu dan pinter membuat saya suka berpikir kalau anak-anak sekarang makin pinter. Tapi berita yang baru saya baca baru-baru ini sungguh-sungguh hebat. Seorang anak berumur 9 tahun, yang nota bene punya nama belakang Boedihardjo, sedang memulai kuliahnya di Hong Kong’s Baptist University (HKBU).

March, nama si anak jenius ini, memang gemar membaca. Tapi, sama seperti anak-anak seumurnya, dia juga senang bermain games komputer. Cuma, seperti dikutip BBC News, dia kesulitan buat bertukar pikiran dengan teman-teman seusianya tentang masalah akademis. Cape deh! Mungkin begitu kata teman-temannya :) .

Terus terang, tadinya saya berpikir kalau March bisa mencapai prestasi ini solely karena faktor genetis. Dalam bahasa Inggris pun, anak-anak istimewa ini disebut gifted yang secara harafiah berarti mendapat hadiah. Tapi dari artikel yang saya baca di Wikipedia, saya jadi tahu kalau ternyata kejeniusan pun bisa diajarkan. Mungkin saja bahwa secara bakat, anak-anak tersebut telah mempunyai bawaan kejeniusan. Tapi dengan bimbingan, anak-anak ini bisa mencapai lebih dari yang biasanya dicapai oleh anak-anak seumurnya. Bahkan mungkin saja lebih dari pencapaian orang-orang yang jauh lebih dewasa dari mereka.

Contoh yang diberikan dalam artikel di Wikipedia adalah tentang seorang guru catur berkebangsaan Hongaria yang bernama Laszlo Polgar. Mungkin demikian cintanya Laszlo pada permainan catur sehingga dia mengajarkan tiga putrinya bermain catur dari sejak kecil. Hasilnya, ketiga putrinya tersebut menjadi juara-juara dunia. Bahkan, salah satu anaknya bernama Susan memenangkan kejuaraan catur Budapest untuk anak perempuan yang umurnya di bawah 11 tahun saat Susan berumur 4 tahun! Believe it or not!

Buat saya pribadi, ini suatu pencerahan dan lagi-lagi suatu penegasan lagi atas teori tentang mindset. Mindset tetap saya sudah buru-buru bilang,”Wah, dia pasti secara genetis berbakat!”. Tapi ternyata kejeniusan pun bisa dilatih. Ini membuka pikiran saya sungguh-sungguh. Moga-moga demikian pula buat rekan-rekan semua.

SEMUT DAN LALAT

Semut dan Lalat

;Dikutip dari email

Beberapa ekor lalat nampak terbang berpesta diatas sebuah tong sampah didepan sebuah rumah. Suatu ketika anak pemilik rumah keluar dan tidak menutup kembali pintu rumah kemudian nampak seekor lalat bergegas terbang memasuki rumah itu. Si lalat langsung menuju sebuah meja makan yang penuh dengan makanan lezat. “Saya bosan dengan sampah-sampah itu, ini saatnya menikmati makanan segar” katanya. Setelah kenyang si lalat bergegas ingin keluar dan terbang menuju pintu saat dia masuk, namun ternyata pintu kaca itu telah terutup rapat. Si lalat hinggap sesaat di kaca pintu memandangi kawan-kawannya yang melambai-lambaikan tangannya seolah meminta agar dia bergabung kembali dengan mereka.

Si lalat pun terbang di sekitar kaca, sesekali melompat dan menerjang kaca itu, dengan tak kenal menyerah si lalat mencoba keluar dari pintu kaca. Lalat itu merayap mengelilingi kaca dari atas ke bawah dan dari kiri ke kanan bolak-balik demikian terus dan terus berulang-ulang. Hari makin petang si lalat itu nampak kelelahan dan kelaparan dan esok paginya nampak lalat itu terkulai lemas terkapar di lantai.

Tak jauh dari tempat itu nampak serombongan semut merah berjalan beriringan keluar dari sarangnya untuk mencari makan dan ketika menjumpai lalat yang tak berdaya itu, serentak mereka mengerumuni dan beramai-ramai menggigit tubuh lalat itu hingga mati. Kawanan semut itu pun beramai-ramai mengangkut bangkai lalat yang malang itu menuju sarang mereka.

Dalam perjalanan seekor semut kecil bertanya kepada rekannya yang lebih tua “Ada apa dengan lalat ini Pak?, mengapa dia sekarat?”. “Oh.. itu sering terjadi, ada saja lalat yang mati sia-sia seperti ini, sebenarnya mereka ini telah berusaha, dia sungguh-sungguh telah berjuang keras berusaha keluar dari pintu kaca itu namun ketika tak juga menemukan jalan keluar, dia frustasi dan kelelahan hingga akhirnya jatuh sekarat dan menjadi menu makan malam kita” Semut kecil itu nampak manggut-manggut, namun masih penasaran dan bertanya lagi “Aku masih tidak mengerti, bukannya lalat itu sudah berusaha keras? kenapa tidak berhasil?”.

Masih sambil berjalan dan memanggul bangkai lalat, semut tua itu menjawab “Lalat itu tak kenal menyerah dan telah mencoba berulang kali, hanya saja dia melakukannya dengan cara-cara yang sama”. Semut tua itu memerintahkan rekan-rekannya berhenti sejenak seraya melanjutkan perkataannya namun kali ini dengan mimik & nada lebih serius “Ingat anak muda, jika kamu melakukan sesuatu dengan cara yang sama namun mengharapkan hasil yang berbeda, maka nasib kamu akan seperti lalat ini”.

Para pemenang tidak melakukan hal-hal yang berbeda, mereka hanya melakukannya dengan cara yang berbeda

Kiat Menulis Surat Lamaran

Kiat Membuat Surat Lamaran Pekerjaan

OK, kamu baru lulus kuliah dan pengen segera kerja. Memang membosankan kalau harus menunggu berbulan-bulan di rumah tanpa kesibukan yang berarti.

Jadi, kamu mulai menyiapkan surat lamaran kamu. Tapi tunggu dulu.. Bagaimana ya caranya??? Wah bingung deh. Menulis surat lamaran kan nggak mudah. Banyak banget kayaknya yang harus dipersiapkan. Belum lagi formatnya yang harus diperhatikan dengan benar. Kalau formatnya nggak menarik, gimana bisa nanti menarik perhatian perusahaan yang dilamar? Wah gimana nih?

Buat saya, menulis surat lamaran termasuk satu hal yang cukup sering saya lakukan. Terus terang saja, hingga tahun lalu, mungkin sudah ratusan surat lamaran yang saya kirimkan. Panggilan wawancara pun entah sudah berapa puluh yang saya terima. Jadi mungkin saya bisa share beberapa kiat saya dalam menulis surat lamaran.

OK, let’s start. Jadi inilah kiat-kiat menulis surat lamaran pekerjaan ala Togap Siagian:

1. Tiap Lowongan Pekerjaan Berbeda

Yang perlu diingat pertama tama, tentunya setiap lowongan pekerjaan berbeda satu sama lain dan karena itu perlu surat lamaran yang berbeda. Jadi jangan hanya meng – copy paste surat lamaran yang ada. Pastikan isi surat lamaran kamu sesuai dengan pekerjaan yang ditawarkan. Caranya mudah kok. Lihat saja iklan lowongan pekerjaan tersebut. Lalu sesuaikan isi surat lamaran kamu dengan syarat-syarat yang tertulis di iklan tersebut. Tentunya tulis yang benar saja. Jangan sekali-sekali menulis yang tidak benar.

2. Jangan Terlambat

Perhatikan tanggal penutupan iklan tersebut. Saya belum pernah mendengar ada lamaran yang diterima setelah tanggal deadline terlewati. Jadi supaya aman, pastikan surat kamu sudah terkirim dan sampai sebelum tanggal deadline-nya.

3. Format Penulisan

Saya asumsikan semua surat lamaran diketik dengan komputer. Hari gini masa sih masih ada yang pakai mesin ketik buat mengirim surat lamaran? Nah, walaupun kemampuan kamu menggunakan word processor sudah canggih, nggak perlu terlalu fancy waktu menulis surat lamaran. Surat lamaran kamu nggak perlu dikasih warna – warni. Cukup gunakan warna hitam buat tulisannya dan kertas putih.

4. Bagian Introduction

OK, masuk ke penulisan suratnya. Bagian pertama adalah introduction. Di sini kamu memperkenalkan nama dan mungkin juga umur (kalau salah satu persyaratan yang diminta adalah umur tertentu). Juga di bagian ini, kamu terangkan dimana kamu mengetahui tentang adanya lowongan pekerjaan tersebut. Oh ya, di sini kamu tuliskan dengan jelas pekerjaan yang kamu lamar di perusahaan tersebut.

Contoh: I have always been interested in working in your company, and when I read on milisbeasiswa.com about the opening for an internal auditor position, I was very excited. My name is Luna Maya and I am 24 years old.

5. Pengalaman Kerja dan Pendidikan

Bagian berikutnya berisi penjelasan singkat tentang latar belakang pendidikan atau pengalaman kerja kamu. Nah, di sini harus diperhatikan hal berikut ini. Ingat, kalau kamu sudah pernah bekerja sebelumnya, dan pengalaman kerja kamu relevan dengan pekerjaan yang kamu lamar, di bagian ini kamu perlu menuliskan pengalaman kerja kamu. Jadi misalnya, kamu sudah pernah bekerja selama 2 tahun di bidang audit. Jadi ya di sini kamu tuliskan pengalaman kerja kamu. Latar belakang pendidikan kamu tuliskan di bagian berikutnya. Cukup singkat saja. Detailnya bisa dilihat di resume kamu.

Kalau kamu belum pernah bekerja sebelumnya, misalnya kamu fresh graduate, maka kamu perlu menuliskan latar belakang pendidikan kamu. Karena itu yang perlu kamu tunjukkan pada si rekruter.

6. Tunjukkan Pencapaian

Dalam menuliskan pengalaman kerja, tunjukan maksimum dua hal yang berbeda yang pernah kamu capai dalam pekerjaan kamu. Jadi kamu mungkin bisa menuliskannya seperti contoh di bawah. Bagian yang saya tebalkan menunjukkan pencapaian yang dibuat penulisnya.

Currently, I work for PT ABCD Tbk as a senior auditor. I joined this company in 2005 as a management trainee program where I passed as the best trainee and promoted to be a junior auditor. Last year, during a critical audit from the headquarter, I helped the company to collect all the necessary data which previously was not easily found.”

7. Bagian Penutup

Bagian terakhir adalah bagian penutup. Di sini bukan hanya kamu memberikan penegasan bahwa kamulah calon yang paling cocok untuk pekerjaan yang ditawarkan, tapi juga di bagian ini kamu meminta kesediaan mereka untuk melakukan wawancara dengan kamu. Kira-kira kamu bisa menuliskan begini:

I fulfill most the requirements you have for this job. I do believe my experience and education background will be an important asset for your company. I can discuss in detail my qualification in an interview.

OK, segitu dulu kiat-kiat dari saya buat menulis surat lamaran pekerjaan. Semoga membantu.

Kamu punya pertanyaan, atau mau share pengalaman menulis surat lamaran pekerjaan? Tuliskan di bagian comment di bawah.

Berburu Beasiswa Sejak Bangku Sarjana

Mempersiapkan Diri untuk Beasiswa Mulai dari Bangku S1

Oleh :

Hingga hari ini, lebih dari 40 ribu orang telah bergabung dengan milis beasiswa. Website MilisBeasiswa.com dikunjungi lebih dari 500 orang setiap harinya. Banyak anggota milis yang ternyata masih belajar di bangku S1. Mereka sering menanyakan apa yang harus dipersiapkan untuk mencari beasiswa di luar negeri. Untuk yang ingin mendapatkan beasiswa Master, saya bagikan kiat-kiatnya. Moga-moga membantu.

1. Bahasa Inggris

Bahasa Inggris penting banget! Kalau kamu pengen sekolah di Amerika Serikat, Singapura, Australia, atau negara – negara berbahasa Inggris lainnya, tentunya faktor ini tidak bisa kamu hindari. Faktor bahasa Inggris ini pun penting kalau kamu ingin sekolah di negara yang tidak berbahasa Inggris, tapi menggunakan bahasa ini untuk kuliah di kelas. Contohnya di negara Belgia dan Belanda.

Karena itu, usahakan mendapatkan nilai TOEFL atau IELTS yang baik. Umumnya beasiswa mempersyaratkan nilai minimum 550 untuk TOEFL. Tapi pesan saya, usahakan dapat lebih dari 600.

Caranya tentunya bermacam-macam. Saya dulu belajar dari buku Barron’s. Yang lain mungkin lebih suka belajar di kelas persiapan TOEFL di berbagai tempat kursus Bahasa Inggris. Banyak lagi yang mau belajar sendiri lewat kelompok belajar seperti di milis “Belajar TOEFL”. Milis ini juga dibuat oleh moderator Milis Beasiswa. Pilihlah cara belajar yang terbaik buat kamu.

2. Rekomendasi Dosen

Beruntunglah kamu yang bisa dikenal dengan baik oleh dosen-dosen kamu. Karena kamu akan perlu bantuan mereka waktu mencari beasiswa. Rekomendasi yang baik dari dosen kamu akan sangat membantu. Jadi kalau kamu masih kuliah sekarang, usahakan menjalin hubungan yang bagus dengan dosen-dosen kamu.

Jalannya bisa berbagai cara. Kamu bisa menjadi asisten buat mengajar kuliah. Bisa juga kamu menjadi asisten di lab. Ini yang saya lakukan dulu. Cara lain, ya kamu bisa menjadi yang paling rajin masuk kelas dan rajin bertanya. Mungkin ini bisa juga membantu :) .

3. Biasakan Menulis dengan Baik

Untuk hal ini, pesan saya hanya: berlatih, berlatih, berlatih! Saya rasa salah satu permasalahan dengan sistem belajar kita, dari SD hingga kuliah, kita kurang diajarkan untuk menulis dengan baik. Beruntung saya pernah mengikuti workshop yang disponsori oleh perusahaan saya untuk bisa menulis report yang baik. Dasar – dasarnya sama saja dengan menulis apapun. Termasuk menulis esai untuk keperluan beasiswa ataupun aplikasi di sekolah di luar negeri. (Hm! Baru saya pikir, rasanya sekolah di Indonesia belum mensyaratkan ini ya?).

Kamu juga bisa membaca berbagai saran tentang menulis esai di link tips beasiswa di website MilisBeasiswa.com.

Nah, saya pikir secara umum inilah perlu kamu persiapkan untuk mendapatkan beasiswa saat kamu kuliah S1.

Do your best! Rajin mengikuti milis beasiswa dan jangan pernah menyerah!

Mencari Beasiswa

Lima Langkah Dasar Mencari Beasiswa

Oleh :

Sejak dari awal berdirinya mailing list beasiswa di tahun 2000, ratusan bahkan mungkin ribuan informasi beasiswa telah dibagikan bagi membernya. Kebanyakan informasi tersebut berupa peluang beasiswa yang dapat diperebutkan di manca negara. Tapi tidak kurang pula tips-tips praktis untuk memenangkan beasiswa.

Anehnya, masih banyak pertanyaan yang dilayangkan ke milis beasiswa tentang langkah-langkah dasar untuk mendapatkan beasiswa. Kelihatannya, masih banyak orang yang bingung tentang cara memulai proses mendapatkan satu beasiswa tertentu. Karena itu, saya coba tuliskan langkah-langkah dasar mendaftar beasiswa di blog ini.

1. Membuat Kriteria

Hampir sama seperti mencari pacar, perburuan beasiswa kamu perlu dimulai dengan menetapkan kriteria beasiswa yang ingin diikuti. Nah, menetapkan kriteria ini tentunya didasari oleh kebutuhan spesifik kamu. Kriteria ini perlu kamu jabarkan sendiri. Jadi tanyakan pada diri kamu: “Beasiswa seperti apa yang ingin saya ikuti?”. Jawabannya bisa bermacam-macam, dan tidak perlu sama dengan kriteria yang dibuat oleh orang lain.

Beberapa kriterianya sudah saya coba daftarkan di bawah. Kamu bisa menambahkan sendiri yang relevan buat kamu. Atau kalau mau, kamu bisa mengurangi. Contoh, kalau buat kamu negara tempat studi tidak penting, artinya kamu mau kuliah di mana saja, kriteria lokasi bisa kamu abaikan atau dihapus.

Berikut contoh kriteria yang bisa kamu buat:

  • Level pendidikan: Master (S2)
  • Bidang studi: lingkungan (environmental), biologi, manajemen, atau ekonomi.
  • Lokasi studi: Target utama di Eropa, Amerika Serikat atau Jepang. Negara-negara lain, seperti Singapura, China, Canada, dan lain-lain akan saya pertimbangkan, tapi tidak menjadi sasaran utama.
  • Jumlah beasiswa yang diberikan: setidaknya cukup untuk membayar biaya kuliah (tuition and fees).
  • Ikatan dinas: tidak tertarik untuk mendapatkan beasiswa yang ada ikatan dinasnya.
  • Tambahkan kriteria lain yang kamu rasa perlu.

2. Menentukan Fokus

Dengan adanya kriteria di atas, kamu telah mempersempit pilihan kamu. Tentu saja ini bisa berakibat kamu tidak mengetahui adanya beasiswa yang lain di luar kriteria yang sudah kamu buat. Tapi di sisi lain, ini menolong kamu untuk fokus atas beasiswa-beasiswa yang sesuai dengan keinginan kamu.

Untuk kriteria yang dibuat di atas, pilihannya tentu saja jelas. Kamu ingin kuliah di negara Eropa dengan bidang studi yang telah kamu pertimbangkan di atas. Fokusnya sekarang menjadi jelas. Kamu tidak perlu, untuk sementara ini, mencari informasi beasiswa dari negara Singapura, walaupun mungkin beasiswa untuk studi manajemen tersedia. Karena kamu telah menetapkan kamu tidak ingin kuliah di Singapura, kamu bisa fokus untuk mencari peluang beasiswa di negara-negara yang telah kamu tetapkan tersebut.

3. Mencari Informasi Beasiswa yang Relevan

Untuk mencari informasi beasiswa yang sesuai dengan fokus kamu di atas, ada dua cara:

  • Mengunjungi website kumpulan informasi beasiswa. Di dunia maya, sudah banyak sekali website yang dibuat untuk mengumpulkan informasi beasiswa, baik untuk dalam negeri, maupun internasional. Website milis beasiswa yang beralamat di www.milisbeasiswa.com adalah salah satunya. Mulai dari informasi beasiswa non-degree (seperti kompetisi esai, travel grant, dll) hingga informasi beasiswa S1, S2 dan S3 tersedia di sini tanpa dibatasi.
  • Berlangganan informasi beasiswa lewat email. Contohnya adalah milis beasiswa dan newsletter beasiswaku. Perbedaan keduanya ada pada bentuk interaksinya. Milis beasiswa adalah forum diskusi dimana semua member dapat mengirimkan informasi dan / atau pertanyaan ke alamat milis tersebut. Moderator bertugas untuk menyaring email-email yang masuk sehingga hanya email-email yang relevan dan mempunyai nilai berita yang dibiarkan sampai ke mailbox para anggotanya. Newsletter beasiswa bersifat satu arah. Ini artinya seluruh informasi beasiswa yang ada di newsletter tersebut dikirimkan oleh moderator. Member tidak dapat mengirimkan pertanyaannya ke newsletter tersebut. Kedua format ini dibuat untuk memenuhi kebutuhan pelanggan yang berbeda. Contoh: karena jumlah anggota milis beasiswa sudah sangat besar, jumlah email yang dikirim via milis beasiswa pun sudah cukup tinggi. Ada pelanggan yang tidak mau kebanjiran email di mailbox nya dan hanya menginginkan informasi yang relevan. Untuk pelanggan tipe ini, newsletter adalah format yang terbaik. Tetapi bagi pelanggan yang mau berdiskusi dengan orang-orang yang telah mendapatkan beasiswa sebelumnya, mungkin format milis adalah yang terbarik. Sesuasikan format yang kamu pilih dengan kebutuhan kamu.
  • Mencari lewat situs pencari (search engine). Dibandingkan dengan dua cara yang disebutkan sebelumnya, cara inilah yang paling aktif. Artinya, kamu melakukan sedikit lebih banyak usaha, seperti menentukan kata-kata kunci (keywords) yang ingin kamu cari, memilah-milah hasil pencarian yang sesuai, dan membaca informasi tersebut. Situs pencarian favorit saya adalah Google. Untuk mencari beasiswa tentang lingkungan di Amerika Serikat misalnya, saya akan menuliskan keywords berikut: “environmental” “scholarship” “united states”.
  • Membaca informasi di media cetak. Informasi beasiswa yang muncul di media cetak sifatnya tidak tentu. Kamu tidak bisa memastikan kapan informasi beasiswa tersebut muncul dan di media mana dia akan muncul. Karena itu, sifat pencarian beasiswa lewat media cetak ini pasif. Tentu saja kamu perlu aktif mencari beasiswa yang kamu inginkan, karena itu jangan terlalu bergantung pada media cetak.

4. Pilih Beasiswa yang Paling Sesuai

Semua informasi beasiswa yang kamu kumpulkan itu, tentu saja masing-masing mempunyai persyaratannya sendiri-sendiri. Ada beasiswa yang mewajibkan kamu kembali ke negara asal kamu misalnya, tetapi beasiswa lain mungkin tidak mewajibkan hal itu. Ada beasiswa yang hanya diberikan untuk bidang studi sosial, tapi beasiswa lain mungkin bisa digunakan untuk bidang studi yang lebih umum. Ada beasiswa yang mewajibkan kamu untuk mendapatkan surat penerimaan (acceptance letter) terlebih dahulu, tapi ada juga beasiswa lain yang tidak mensyaratkan hal tersebut. Pilihlah beasiswa yang sesuai dengan keinginan kamu.

Penting: kamu perlu membaca persyaratan suatu beasiswa dengan benar dan pastikan kamu mengerti persyaratan yang dibutuhkan.

5. Persiapkan Syarat-Syarat yang Dibutuhkan

Berbagai persyaratan yang mungkin diminta adalah sebagai berikut:

  • Hasil test TOEFL / IELTS
  • Hasil test GMAT / GRE
  • Pengalaman kerja
  • Surat rekomendasi dari dosen di pendidikan kamu terdahulu atau atasan kamu di tempat kerja
  • Acceptance letter dari universitas yang kamu tuju
  • Surat rekomendasi dari dosen di universitas yang akan menerima kamu
  • Esai (statement of purpose, motivation statement)
  • dan lain-lain…

Pastikan semua persyaratan tersebut kamu penuhi tanpa ada yang tidak. Ingatlah bahwa persaingan untuk mendapatkan beasiswa cukup tinggi. Agar tingkat kemungkinan kamu diterima semakin tinggi, tentu saja kamu harus memastikan semua persyaratan dipenuhi dengan baik. “Dengan baik” di sini artinya dikerjakan dengan sempurna. Contohnya, untuk menulis esai statement of purpose, kamu harus mengikuti beberapa kaidah tertentu. Kaidah-kaidah dan langkah-langkah penulisan esai yang baik itu dapat dibaca di buku “Kiat Memenangkan Beasiswa” (klik di sini).

Kelima langkah dasar beasiswa a la Togap Siagian ini hanyalah langkah-langkah awal yang perlu kamu lakukan untuk memulai proses pencarian beasiswa kamu. Dengan langkah-langkah yang disebutkan di sini, proses pencarian beasiswa kamu akan dapat kamu lakukan dengan lebih baik.

Mindset

Pentingnya Mindset Dalam Mengejar Beasiswa

Mindset: A fixed mental attitude or disposition that predetermines a person’s responses to and interpretations of situations. Answers.com

Perburuan saya mencari beasiswa dimulai setelah saya bekerja di sebuah perusahaan tambang asing di timur Indonesia. Saya ingat beasiswa pertama yang saya coba adalah beasiswa dari Australia, yaitu The Australian Development Program. Hanya bermodal keinginan kuat dan kepercayaan diri yang terlalu tinggi, saya mengirimkan lamaran saya tanpa dilengkapi beberapa dokumen yang diperlukan. Itu pengalaman pertama saya, dan hasilnya bisa diramalkan: gagal.

Percobaan kedua, beasiswa Chevening Award dari negara Inggris yang menjadi sasaran saya. Seingat saya, salah satu persyaratan beasiswa ini adalah menulis esai. Dokumen dokumen yang diperlukan sudah saya peroleh. Tetapi untuk urusan esai, wah, saya benar-benar cuek. Esainya saya tulis seadanya tanpa memperdulikan isi tulisan, struktur, dan lain-lain. Hasilnya lagi-lagi bisa diramalkan: gagal deuy!

Yang ketiga dan, syukurlah, yang terakhir saya mencoba beasiswa Fulbright dari negara Amerika Serikat. Untuk yang terakhir ini, persiapan saya jauh lebih matang. Pertama, selama sebulan penuh saya belajar mengerjakan soal-soal ujian TOEFL. (In case kamu bertanya, saya menggunakan buku terbitan Barron’s). Teman-teman yang mengunjungi rumah tempat saya tinggal bisa melihat bagaimana setiap malam saya sibuk berkutat dengan buku tersebut. Saya membuat target untuk menyelesaikan sepuluh soal setiap malamnya. Bukan hanya saya kerjakan sambil lalu, tapi saya pastikan setiap kali saya mempunyai masalah, saya mendapatkan penjelasan yang baik.

Kedua, sekali ini, saya bela-belain bolak-balik Jakarta Bandung hanya untuk mendapatkan surat rekomendasi dari dua orang dosen yang cukup saya kenal. Benar, yang diminta hanya satu surat rekomendasi. Tapi kali ini, saya tidak mau membuat kesalahan. Saya pastikan saya mendapatkan surat rekomendasi dari kedua dosen saya tersebut.

Ketiga, saya benar-benar belajar untuk menulis esai. Saya luangkan waktu saya beberapa jam di Internet hanya untuk mencari contoh-contoh esai yang baik. Selain dari pelatihan menulis laporan yang saya terima di tempat saya bekerja, saya tidak punya pengalaman lain dalam menulis. Karena itu, saya berusaha mencari informasi sebanyak-banyaknya. Berkali-kali saya meminjam buku-buku di perpustakaan yang saya pikir bisa memberikan pencerahan buat saya dalam menulis esai. Majalah-majalah asing, seperti Time, Newsweek, dan Fortune, saya “lahap” hanya untuk mengerti bagaimana sebuah tulisan menjadi menarik untuk dibaca hingga selesai.

Hasilnya tidak sia-sia. Sekali ini, saya berhasil. AMINEF memanggil saya untuk mengikuti wawancara di Jayapura. Dan akhirnya, saya berhak menyandang gelar “Fulbright Scholar” di tahun 2000. (Tidak terasa ternyata sudah 7 tahun berlalu!)

Semua hal tersebut seolah-olah saya rasakan kembali ketika beberapa waktu lalu saya dan teman-teman moderator milis beasiswa mendapat kesempatan untuk berbagi informasi dan cerita di salah satu universitas di Jakarta. Tapi kilas balik tersebut saya rasakan bukan karena seseorang menceritakan perjuangannya mencari beasiswa. Justru itu saya rasakan karena pertanyaan yang, bagi saya, nadanya sedikit pesimis dari salah seorang peserta acara seminar tersebut.

Pertanyaannya simpel,”Apakah dengan IPK saya yang hanya sedikit di atas 3,00 saya bisa mendapatkan beasiswa?”. Pertanyaan tersebut seolah-olah menggambarkan kalau dengan IPK yang pas-pasan tersebut, tidak ada lagi harapan bagi si penanya. Seolah-olah IPK adalah harga mati yang membuat seseorang tidak bisa (atau bisa) mendapatkan beasiswa. Cepat saya menjawab,”Saya juga IPK-nya segitu kok”. Ya, benar. Walaupun harus malu mengakuinya, IPK S1 saya cuma 3,0x (x nya isi sendiri). Kenyataannya, saya mendapatkan beasiswa tersebut. Kenyataannya, di tahun 2002 saya kembali ke Indonesia sebagai Fulbright Scholar dan ditambah embel-embel MBA.

Jawaban saya ternyata tidak memuaskan penanyanya. Sekali lagi dia maju dan berkomentar, “Mas Togap kan kerja di PT XXX. Jadi ya wajar dong kalau dapet beasiswa tersebut. PT XXX itu kan salah satu penyumbang untuk beasiswa itu!”. Oh well, memang benar saya saat itu tercatat sebagai karyawan di PT XXX. Juga benar, kalau saat itu PT XXX adalah salah satu penyumbang untuk beasiswa Fulbright. Tapi terus terang saja, sekalipun saya tidak pernah berpikir kalau itulah yang menjadi alasan saya mendapatkan beasiswa itu!

Komentar dan pertanyaan yang seperti ini terasa agak menyedihkan buat saya. Karena komentar dan pertanyaan itu lebih terasa menghakimi diri sendiri buat penanyanya daripada menginginkan diskusi. Saya merasa kalau penanyanya dengan menanyakan hal itu justru mencari justifikasi buat ketidakmampuannya untuk mendapatkan beasiswa. Bahkan sebelum dia mencoba, dia sudah berpikir dan “merasakan” kalau dia tidak akan mendapatkan beasiswa tersebut.

Kenyataannya, walaupun belum pernah melakukan survey, saya yakin ada banyak orang Indonesia yang berhasil mendapatkan beasiswa walaupun hanya dengan IPK yang cukupan. Bahkan di milis beasiswa, saya ingat pernah membaca cerita tentang seseorang yang mendapatkan beasiswa dengan IPK kepala 2 alias 2,xx! Isn’t it something?

Saya yakin semua ini hanyalah masalah mindset atawa cara pandang. Mindset-lah yang menentukan sikap seseorang terhadap sesuatu hal.

Dalam buku Mindset, Carol Dweck PhD menjelaskan bahwa di dunia ini terdapat dua tipe manusia. Tipe pertama, adalah orang-orang yang mempunyai mindset berkembang. Manusia dengan tipe ini melihat semua kesempatan sebagai proses untuk mengembangkan diri. Manusia tipe ini juga percaya bahwa mereka dapat mencapai segala sesuatu dengan memfokuskan usaha mereka untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan.

Tipe kedua, adalah tipe mindset tetap. Manusia dengan tipe ini percaya bahwa kemampuan mereka adalah hasil dari bakat. Mereka percaya bahwa bakatlah yang membawa mereka pada keberhasilan. Karena yang diperlukan hanya bakat, yang nota bene dibawa dari lahir, mereka percaya bahwa usaha tidak diperlukan untuk mendapatkan pencapaian yang mereka inginkan. Dengan bakat yang mereka miliki, dengan sendirinya mereka akan memperoleh hasil. Tapi di sisi lain, tanpa bakat, mereka percaya mereka tidak mungkin mencapai hasil tertentu. Karena itu, orang-orang dengan mindset tetap percaya kalau mereka tidak perlu berusaha (make an effort). Bahkan, bagi mereka, usaha adalah sesuatu yang perlu dihindari. Karena semuanya datang karena bakat, tentu saja tidak ada pentingnya berusaha. Berusaha justru menunjukkan kalau seseorang tidak mempunyai bakat. Dan karenanya bagi mereka, orang yang melakukan sesuatu dengan usaha yang keras sesungguhnya adalah orang yang gagal.

Bagi manusia mindset tetap kegagalan adalah sesuatu yang harus dihindari. Berbeda dengan manusia mindset berkembang, yang menganggap kegagalan adalah satu pengalaman penting untuk belajar kembali. Dari satu kegagalan, kita harus belajar untuk keberhasilan di waktu yang lain. Menarik bahwa konsep neuro-linguistic programming (NLP) mempunyai satu asumsi awal (presupposition) yang sama. Yaitu bahwa kegagalan adalah suatu feedback. There is no failure, only feedback.

Cara pandang mindset berkembang ini memberikan kemerdekaan bagi penganutnya. Mereka merdeka dalam arti kegagalan tidak lagi membelenggu jiwa mereka. Kegagalan justru membebaskan, karena lewat kegagalan mereka memperoleh pembelajaran (learning). Dan, in the end, pembelajaran membawa keberhasilan.

Kembali ke masalah IPK dan beasiswa, bagi manusia dengan mindset berkembang, IPK hanyalah satu faktor dalam mendapatkan beasiswa. Buat mereka, jika IPK sudah keburu hancur, mereka akan mencari faktor lain yang akan menolong mereka mendapatkan beasiswa itu. Dalam salah satu email saya di milis beasiswa, saya pernah tuliskan bahwa selain IPK, banyak hal lain yang bisa memberikan nilai tambah dalam mendapatkan beasiswa. Misalnya, karir yang bagus seperti ditunjukkan dalam surat rekomendasi dari atasan. Keberhasilan lain dalam masyarakat juga bisa ditonjolkan dan menjadi faktor penentu dalam mendapatkan beasiswa. Buat yang senang riset, mungkin yang dilakukannya adalah mencari topik riset yang memberinya kesempatan lebih untuk mendapatkan beasiswa. Buannyakk lagi cara yang bisa dilakukan. Seorang anggota milis beasiswa pernah bercerita kalau dia berhasil memenangkan beasiswa di usahanya yang kelima setelah dia berpindah kerja dari sebuah perusahaan swasta ke LSM! Jadi banyak hal yang bisa dilakukan.

Untuk melanjutkan sekolah ke luar negeri pun, bukan hanya lewat beasiswa. Member milis beasiswa, Lina, sukses melanjutkan kuliah di Jerman setelah selama setahun bekerja sebagai au-pair. Tugasnya mengawasi anak-anak keluarga tempatnya bekerja. Member yang lain sukses kuliah di Amerika Serikat dengan sistem kamikaze. Artinya, nyemplung dulu ke negara Paman Sam tersebut, dan kemudian berusaha mencari tambahan duit dan beasiswa di sana. (Ternyata beneran buuaanyyakk cara yang bisa dilakukan, kan?)

Perlu dicatat, bahwa orang dengan mindset tetap pun banyak yang memperoleh keberhasilan. John McEnroe, seorang petenis yang terkenal di tahun 80-an, adalah contoh manusia dengan mindset tetap. Tapi dengan segala keberhasilannya, John juga dikenal sebagai pemain tenis yang pemarah dan suka menyalahkan faktor lain di luar dirinya saat harus menerima kekalahan. Menurut Carol Dweck, John McEnroe is a very good example of a person with fixed mindset.

Pada akhirnya, menjadi seseorang dengan mindset tetap atau mindset berkembang (growth mindset) adalah perkara mau memilih yang mana. Anda yang telah mempunyai mindset berkembang, bersyukurlah. Selama Anda mau berusaha, kesuksesan bersama Anda. Sedangkan Anda yang mempunyai mindset tetap, ingatlah bahwa Anda mempunyai pilihan untuk menjadi seseorang yang ber-mindset berkembang. Selama Anda merasa nyaman dengan mindset tetap Anda, it’s fine. Tapi Anda tahu bahwa Anda selalu dapat berubah (dengan latihan) untuk menjadi manusia ber-mindset berkembang.

How to quest Scholarship?

Lakukan “Segala Cara” untuk Dapat Beasiswa

Ketika saya menulis “segala cara”, benar-benar saya maksudkan semua cara yang mungkin kamu lakukan untuk mendapatkan beasiswa. Yang halal tentunya. Saya tertarik menulis tentang hal ini karena pengalaman beberapa orang dan saya sendiri ketika sedang berjuang untuk mengejar beasiswa. Beasiswanya sebenarnya tidak lari kemana mana, hanya memang rada susah ngedapetinnya. Jadi dikejarlah dengan cara-cara yang tidak biasa.

Segala Cara #1: Pindah Kerja ke LSM

Ekstrim juga memang. Tapi kisah member milis beasiswa ini cukup menarik buat disimak. Nita, sebut saja begitu namanya, sudah keempat kalinya mencoba mendapatkan beasiswa. Rasanya tidak ada yang kurang. Esai sudah dikerjakan dengan baik. IPK lumayan OK. Karirnya pun nggak jelek sebagai akuntan di sebuah multinational company yang cukup terkenal. Ini semuakan something yang bisa menolong memuluskan aplikasi beasiswa? Kok nggak dapat-dapat ya?

Tanya sana tanya sini, akhirnya Nita sampai pada satu kesimpulan: tempat kerjanyalah yang menjadi masalah. Dari hitung-hitungan Nita, dia melihat bahwa peluang menjadi beasiswa-wati bisa lebih besar kalau Nita bekerja di LSM. (Saya sih nggak setuju).

Jadi pindahlah Nita meninggalkan pekerjaan bagusnya di MNC untuk bekerja di LSM. Dia tetap bekerja sebagai akuntan. Tapi intinya, Nita bekerja di LSM buat mendapatkan beasiswa yang dia inginkan.

Dan jadilah. Nita mendapatkan beasiswa tersebut tahun ini. Sukses buat “Nita” dan thanks buat sharing-nya lewat yahoo messenger ke saya. (Kalau pengen kenalan dan memberi sumbangan, nick YM saya: togap_siagian).

Segala Cara #2: Pindah ke Daerah yang Terkena Bencana

Seorang teman yang saya kenal sewaktu bekerja di perusahaan tambang “kecil” yang terkenal di dunia pindah kerja ke Aceh untuk mendapatkan beasiswa. Terus terang saya kurang tahu hasilnya karena setelah kepindahannya kami tidak pernah berhubungan lagi.

Catatan: Saya rasa peluang mendapatkan beasiswa menjadi lebih besar kalau Anda menjadi relawan di daerah itu. Tapi jangan salahkan saya kalau Anda tetap tidak dapat beasiswa setelah pindah ke daerah bencana. Mungkin Anda perlu membaca buku tulisan saya dan Ibu Pangesti Wiedarti berjudul “Kiat Memenangkan Beasiswa“. (Benar, ini memang promosi :) .. )

For you my friend, all the best!

Segala Cara #3: Tinggal di Indonesia Timur

Kalau ini adalah pengalaman saya pribadi. Saat mendapatkan beasiswa Fulbright di tahun 2000, status saya adalah karyawan di salah satu perusahaan di Indonesia Timur. Tentu saja saya memanfaatkan kondisi saya sebagai “tinggal di Indonesia Timur”. Secara de facto dan de jure, memang begitulah kondisi saya saat itu. De facto saya hanya tinggal di pulau Jawa selama sekitar 40 hari dari 365 hari dalam setahun. Secara de jure, KTP dan alamat yang saya gunakan adalah dari Indonesia bagian timur. Walau ada resiko terlambat, saya bahkan menggunakan alamat di Indonesia Timur untuk keperluan surat menyurat. Persaingan yang saya hadapi pun jadinya adalah di kategori Indonesia Timur. Salah atau tidak? I don’t know. Yang pasti, ada beberapa orang yang saya kenal sukses menggaet beasiswa dengan cara ini.

Buat Anda yang saat ini tinggal di Indonesia bagian timur, pergunakanlah kondisi ini dengan semaksimal mungkin. Tinggal di Indonesia bagian timur memang punya tantangan tersendiri. Tapi akan terasa indahnya saat beasiswa Anda raih.

Segala Cara #4: Berinovasi Saat Wawancara

Seorang teman yang sudah lulus S2 di Indonesia ingin mendapatkan beasiswa ADS. Tentu saja, beasiswa yang diincarnya adalah beasiswa untuk kuliah S2 lagi. Anda tidak salah baca: beasiswa S2 lagi. (Banyak yang bilang ini tidak mungkin, tapi kenyataannya terjadi. That’s why saya suka bilang: coba aja, siapa tahu berhasil).

Nah, yang menarik adalah saat teman saya ini, sebut saja Andi, diwawancara. Terus terang saja, saat wawancara biasanya saya tidak membawa bahan apa-apa. Saya muncul dengan diri saya sendiri tanpa “merasa” perlu membawa sesuatu yang bisa menguatkan argumentasi saya. Tapi Andi berbeda. Dia kreatif sekali.

Saat Andi ditanya alasannya memilih jurusan yang akan dijalaninya, untuk menguatkan maksudnya, dia menunjukkan foto yang sudah disiapkannya. Tentu saja, pertanyaan seperti itu sudah diantisipasi. Tapi biasanya, orang hanya menjawab tanpa menggunakan alat lain. Sedangkan teman saya ini telah menyiapkan foto tersebut buat jadi alat untuk membantunya. Fotonya sederhana saja. Cuma menunjukkan dia dan beberapa orang lain berpose bersama seorang menteri dalam seminar yang berhubungan dengan jurusan yang diincarnya.

Teman saya berhasil. Saya yakin itu bukan karena foto yang ditunjukkannya. Tapi tentu saja foto tersebut dan kesiapannya memberikan kesan yang baik bagi para pewawancara.

Saya jadi ingat ketika suatu waktu saya mewawancarai seorang kandidat untuk satu posisi di kantor saya. Kandidat ini datang membawa sebuah map plastik yang berisi berbagai dokumen. Pertanyaan-pertanyaan saya kelihatannya sudah diantisipasi dengan baik dan dia mendukung jawaban-jawabannya dengan berbagai dokumen yang disiapkannya. Wah, kagum juga saya dengan usaha dan persiapannya. Needless to say, that guy got the job.

Apakah bisa Anda aplikasikan? Seperti iklan di tivi: maybe yes, maybe no.

Segala Cara #5: Berbuat Baik pada Semua Orang

Di sini saya kutip satu cerita yang cukup berharga tentang bagaimana seseorang memperbesar kemungkinan dirinya mendapatkan beasiswa tanpa disengaja. Cerita ini berhubungan dengan beasiswa, jadi saya rasa cukup relevan buat saya tampilkan di sini. Sengaja saya kopi dalam bahasa aslinya.

The sweet lesson learned by a former student of mine, Canadian Rhodes Scholar Charles Galunic, is a case in point. Charlie is now a management professor at INSEAD business school in France and is one of the most thoughtful people I’ve ever met. Charlie told me a lovely story about something that happened at a cold and crowded train station in Kingston, Ontario, when he was traveling to Toronto for his Rhodes Scholarship interviews. He was sitting and waiting for the train when he noticed an older couple who were standing and waiting. Charlie being Charlie, he immediately offered the two his seat, which they were happy to take. The next day, Charlie met the couple at a reception in Toronto for the scholarship finalists, and it turned out that the husband was a member of the selection committee. Charlie isn’t sure if this small decency helped him win the prestigious scholarship- but I like to think that it did.

Dikutip dari link ini.

Buat saya, mendapatkan beasiswa adalah suatu perjuangan. Artinya ada pengorbanan yang harus dilakukan. Pengorbanan dalam hal waktu, uang, tenaga, harga diri, dan lain-lain. Tapi semuanya akan terasa indah buat dikenang saat apa yang kita perjuangkan berhasil. Keep the spirit alive!

Pengalaman Wawancara Beasiswa Stuned, Belanda

Pengalaman Wawancara Beasiswa Stuned (Belanda)

Wawancara beasiswa Stuned dapat dilakukan via telepon ataupun langsung bertatap muka. Kedua pengalaman yang berbeda ini diceritakan di bawah oleh Maria T. Ping dan Lia. Keduanya pemenang beasiswa Stuned tahun 2006 dan kebetulan sama-sama studi Groningen.

Maria T. Ping:

Saya salah seorang StuNeder 2006, mungkin bisa sedikit berbagi pengalaman. Karena saya tinggal di kota yang sangat jauh dari Jakarta, saya di interview melalui telepon oleh pihak NEC. Interviewnya tentu saja dalam bahasa Inggris, dan menurut pihak NEC, hal ini juga menjadi salah satu pertimbangan untuk menentukan kandidat penerima beasiswa.

Menurut saya interviewnya tidak terlalu sulit selama kita memang sudah siap. Jadi siapkan saja mental anda dulu, supaya tidak gugup. Seperti yang sudah dikatakan oleh Mas Togap, pertanyaan-pertanyaan interview beasiswa akan berkaitan dengan rencana studi (tentang apa, relevansinya dengan pekerjaan dan keadaan negara/daerah kita termasuk pengetahuan tentang univ dan kota yang akan kita tuju) dan tentang pekerjaan kita sekarang. Kalau memang kita sudah siap, pasti akan berjalan lancar.

Maria T. Ping
M.Sc. in Education
Rijksuniversiteit Groningen

Lia:

Berdasarkan pengalaman saya mengikuti interview StuNed 2006, saya punya beberapa tips (more or less sama seperti tips dari pak Togap) yaitu: berpakaian rapi dan resmi, berpenampilan baik dan segar, datang on time, ketika wawancara harus PeDe, tatap mata interviewer, santai, gesture perlu tapi jgn berlebihan dan keep smiling :) .

Sebaiknya jawaban-jawaban yang telah disiapkan diungkapkan secara mengalir saja, bukan seperti orang menghafal, karena interviewer menilai keseriusan, keyakinan dan leadership melalui jawaban2 kita.

Beberapa pertanyaan yang ditanyakan ketika interview umumnya:

  • Mengapa anda memilih Belanda sebagai negara tujuan study?
  • Apa hubungan antara pendidikan anda sebelumnya dengan pendidikan yang akan anda tempuh di Belanda, bagaimana hubungannya dengan pekerjaan Anda?
  • Apa kontribusi anda dalam pembangunan Indonesia dan apa yang akan
    Anda lakukan setelah selesai menempuh pendidikan di Belanda?
  • Bagaimana dengan keluarga?
  • Apa yang akan menjadi kendala selama anda menempuh pendidikan di
    Belanda dan bagaimana mengatasinya? (terkait dengan cuaca, different
    culture
    dan homesick)

Saya pikir sudah banyak tips menghadapi wawancara di milis dan website
beasiswa yang bisa di-explore. Dan satu lagi, banyak berdoa dan beribadah.

Veel success!

Regards,
~ lia ~
Groningen, NL